Bagaimana cara mengukur aktivitas dakwah kita, apakah sudah sesuai dengan manhaj dakwah Rasulullah saw. ataukah belum?
Caranya tidak lain adalah mengikuti jalan yang ditempuh oleh Rasulullah saw. ketika beliau menegakkan Islam di Madinah. Jika kita benar-benar meneladani aktivitas-aktivitas beliau ketika berdakwah niscaya kita pun akan menjumpai berbagai macam ‘pemandangan’ sebagaimana yang dijumpai Rasulullah saw ketika berdakwah. Kita juga akan mendapati berbagai peristiwa sebagaimana berbagai peristiwa yang pernah dialami Rasulullah saw. dalam upayanya mendakwahkan Islam. Oleh karena itu, ketika kita sudah menetapkan manhaj dakwah Rasulullah sebagai manhaj dakwah kita, maka apa yang akan dialami Rasulullah dan apa yang dilihat Rasulullah tentu akan kita lihat pula. Tetapi jika kita mengaku mengikuti manhaj dakwah Rasulullah saw. namun pemandangan yang kita jumpai berbeda dan berlawanan dengan pemandangan yang dijumpai Rasulullah saw., maka bisa dipastikan bahwa jalan yang kita tempuh bukanlah jalan yang ditempuh Rasulullah saw.
Saya akan membuat satu permisalan bagaimana menyusuri sebuah alur perjalanan agar perjalanan kita sama persis seperti alur perjalanan orang yang akan kita ikuti. Misalnya, kita mau pergi ke Makkah untuk naik haji atau umrah. Saat itu kita ingin mengikuti jalan yang ditempuh Pak Ahmad. Jika kita benar-benar mengikuti dan menyusuri jalan yang ditempuh Pak Ahmad, maka niscaya kita akan mendapati berbagai pengalaman dan pemandangan sebagaimana pengalaman dan pemandangan yang didapati Pak Ahmad. Misalnya, Pak Ahmad pergi haji dengan Shafa Karima Tour. Pak Ahmad berangkat ke Makkah dari Bandara Soekarno-Hatta. Di sana ada bandara internasional yang besar, dan di bandara itu Pak Ahmad melihat hotel-hotel serta berbagai penginapan. Pak Ahmad pergi ke Makkah dengan pesawat Mandala Airlines. Dari maskapai tersebut, Pak Ahmad juga berbagai pelayanan-pelayanan yang memadai.
Jika kita memang benar-benar mengikuti dan menyusuri jalan yang ditempuh Pak Ahmad, maka kita pun akan menjumpai berbagai pemandangan dan pengalaman sebagaimana yang dijumpai Pak Ahmad. Kita pergi haji harus dengan Shafa Karima Tour, bukan dengan Darul Safar Tour atau Mulya Syifa’ Tour, atau yang lainnya. Kita juga harus pergi ke Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta, bukan bandara Adi Sumarmo di Solo, bukan bandara Adi Sucipto di Yogyakarta, bukan bandara Polonia di Medan, bukan bandara Husein Sastranegara di Jawa Barat, atau bandara lain selain Soekarno-Hatta. Dengan begitu kita juga akan mendapati pemandangan sebagaimana pemandangan yang dijumpai Pak Ahmad, misalnya di bandara, kita melihat hotel-hotel dan berbagai macam penginapan. Sama persis seperti yang dijumpai Pak Ahmad. Sebab pemandangan di Bandara Soekarno-Hatta berbeda dengan pemandangan di bandara Adi Sumarmo, bandara Adi Sucipto, bandara Polonia, bandara Husein Sastranegara, atau bandara lainnya.
Selain itu kita juga harus memakai maskapai Mandala Airlines, bukan Simpati, Qantas, atau Garuda Indonesia. Di sana kita juga akan mendapatkan berbagai pelayanan-pelayanan yang memadai seperti yang dirasakan Pak Ahmad. Sekalipun saat itu, Anda sedang tidak bersama Pak Ahmad.
Tetapi jika Anda melenceng sedikit saja dari jalan yang dilalui Pak Ahmad, maka Anda tidak akan menjumpai pemandangan dan pengalaman seperti yang dijumpai Pak Ahmad. Misalnya, Anda memakai Maskapai Garuda Indonesia. Ini sudah berbeda. Pasti yang Anda jumpai, juga akan berbeda dengan yang dijumpai Pak Ahmad. Atau Anda tidak memakai biro haji Shafa Karima, tetapi memakai biro lain seperti Darul Safar Tour, atau Mulya Syifa’ Tour, atau yang lain. Pasti pelayanan yang Anda dapatkan juga tidak sama seperti yang dirasakan Pak Ahmad. Sehingga, dengan sedikit saja kita melenceng dari perjalanan Pak Ahmad, pasti kita akan mendapati berbagai pengalaman dan pemandangan yang berbeda, sekali pun Anda juga akan tetap sampai ke Makkah dan melihat Kakbah. Tetapi sekali lagi, Anda tidak melalui jalan yang dilalui Pak Ahmad.
Dengan analogi tersebut, maka jelaslah sudah bahwa salah satu indikasi kesesuaian manhaj dakwah kita dengan dakwah Rasulullah saw. adalah apa-apa yang bisa kita indera atau yang bisa kita lihat, kita dengar, dan kita rasakan.
Jika kita benar-benar mengikuti metode Rasulullah saw. dalam mencapai kejayaan dan kemuliaan Islam dan kaum muslimin, maka kita pasti akan mendapati berbagai pengalaman dan pemandangan sebagaimana yang dialami dan didapati Rasulullah saw., sama persis dengan analogi tentang ‘mengikuti Pak Ahmad’ di atas.
Misalnya, Rasulullah saw. berdakwah dengan terang-terangan tanpa sedikit pun ada maksud menyembunyikan sesuatu pun, maka kita pun harus melakukannya pula. Kita tidak boleh bermanis muka dengan masyarakat dengan alasan takut ditolak. Kita harus seperti Rasulullah, tegas dan terang-terangan. Sekali pun masyarakat akan banyak menentang kita. Tidak masalah. Mengapa? Sebab, masyarakat Makkah pada waktu itu juga menentang dakwah Rasul. Jadi, jika dakwah kita ditentang masyarakat, itu adalah suatu keniscayaan dalam berdakwah.
Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dalam kitabnya Nizhamul Islam dalam bab Kaifiyah Da'wah menyebutkan ada tiga konsekuensi dari dakwah, yaitu diterima, ditolak, atau dibiarkan saja. Kesimpulan ini diambil dari fakta dakwah Rasulullah saw., yaitu bahwa dalam berdakwah secara terang-terangan, kadang-kadang Rasulullah diterima, kadang-kadang ditolak, dan kadang-kadang dibiarkan saja (tidak dipedulikan). Inilah jalan dakwah Rasulullah, yaitu terang-terangan dalam berdakwah, tidak ada yang disembunyikan dari masyarakat. Tidak bermanis muka dengan alasan takut ditolak masyarakat.
Kemudian, Rasulullah saw. dan para sahabatnya, membongkar kebobrokan sistem jahiliyah Makkah, dan menghinakan tuhan-tuhan mereka, sehingga Rasulullah pun mendapatkan berbagai halangan dan perlawanan fisik yang keras. Jika kita mengikuti metode dakwah Rasulullah dengan benar, maka kita pun harus membongkar kebobrokan sistem jahiliyah modern yang saat ini diterapkan. Sekali pun kita juga mendapati berbagai hambatan dan perlawanan. Sama persis, seperti yang dialami Rasulullah saw. Kita harus membongkar keburukan sistem demokrasi, sistem kapitalis ribawi, sistem liberalis, dan sebagainya. Semua dibongkar keburukannya dengan tujuan agar orang tidak lagi percaya dengan paham-paham tersebut.
Sama persis dengan yang dilakukan Amar. Ketika dia menjelekkan paham jahiliyah dan menjatuhkan berhala yang disembah kedua orang tuanya (Yasir dan Sumayyah), maka Amar pun dimarahi habis-habisan oleh kedua orang tuanya. Tetapi karena kesabaran Amar dan kecerdasan Amar, maka Yasir dan Sumayyah pun sadar hingga akhirnya keduanya memilih pemahaman baru yang dibawa Amar. Sekali pun akibatnya adalah Yasir dan Sumayyah syahid di tangan kafir Quraisy.
Kita pun harus demikian, sekali pun ketika kita berdakwah kita terus menerus ditolak karena kita telah menghinakan berbagai paham-paham kufur yang dianut masyarakat. Sekali lagi, kita tidak boleh berputus asa.
Rasulullah saw. juga berdakwah dengan pemikiran, melawan pemikiran-pemikiran kufur. Sehingga beliau pun akhirnya harus menghadapi berbagai macam fitnah, mulai dari difitnah sebagai tukang sihir, pendusta, tukang pemutus hubungan nasab, dan sebagainya. Jika kita mengikuti Rasulullah saw. dalam berdakwah, niscaya kita pun akan menjumpai pemandangan yang sama. Kita pun akan terkena berbagai macam fitnah keji dari orang-orang yang tidak menyukai kita. Jadi, janganlah kita takut celaan orang-orang yang mencela. Ingat, ini hanyalah salah satu konsekuensi dalam berdakwah.
Jika kita melihat Rasulullah saw. tidak pernah mendirikan laskar-laskar dalam berdakwah. Sekali pun Rasulullah saw. disiksa dan dizalimi secara fisik. Maka kita pun demikian. Kita tidak perlu membuat-buat laskar-laskar untuk mengantisipasi perlawanan fisik. Tidak perlu, sebab Rasulullah saw. juga tidak melakukannya. Rasulullah berdakwah tetap dengan pemikiran, sekali pun gerakan dakwah Rasulullah diserang secara fisik oleh orang-orang kafir.
Rasulullah saw. berdakwah dengan membentuk kelompok dakwah. Maka kita pun saat ini hendaknya bergabung dalam sebuah kelompok dakwah yang menyeru dalam sebuah aktivitas untuk menuju cita-cita besar, sama persis seperti yang dicita-citakan Rasulullah, yaitu tegaknya Islam. Kelompok dakwah Rasulullah adalah sebuah gerakan politik, bukan gerakan sosial, bukan gerakan akhlaqiyah, bukan lembaga pendidikan, bukan sekolahan, atau yang lainnya. Tetapi sebuah gerakan politik.
Rasulullah saw. berjuang dengan jalur politik. Maka kita pun juga harus berjuang dalam bidang politik sebagaimana jalan yang ditempuh Rasulullah saw. Beliau berdakwah tidak semata-mata menegakkan tauhid dalam diri tiap-tiap orang Makkah. Tetapi beliau berupaya sekuat tenaga meraih kekuasaan untuk bisa menegakkan Islam. Untuk itulah beliau mencari nushrah (pertolongan) dari para ahlul quwwah yang memiliki kekuatan. Beliau mendakwahi para pemilik kekuatan untuk bisa beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan mau dipimpin oleh Rasulullah saw. Beliau telah mendakwahi Bani Kalb, Bani Hanifah, Bani Tsaqif, Bani Amr bin Sha’sha’ah, Bani Aus, Bani Khazraj, dan bani-bani lainnya di tanah Arab.
Rasulullah berjuang juga tidak terlibat dalam sistem kufur. Bahkan ketika beliau diajak berkompromi dan berkoalisi, maka beliau pun menolak. Hal yang sama juga harus kita lakukan. Kita tidak boleh berkompromi dengan sistem kufur yang ada dan menolak segala bentuk upaya kompromi atau koalisi. Ingat, Rasulullah saw. tidak pernah terbeli. Maka kita pun tidak boleh terbeli. Suatu saat, ketika orang kafir Quraisy merasa kewalahan menghadapi gerakan dakwah Rasulullah, mereka pun mendatangi Abu Thalib untuk memohon kepada Rasulullah agar Muhammad menghentikan laju dakwahnya. Sebagai imbalannya, mereka akan mengangkat Rasulullah menjadi pemimpin, memberikan harta, dan wanita. Tetapi Rasulullah menolak. Rasulullah hanya menerima kepemimpinan atas dasar Islam, bukan atas dasar selain Islam. Kita pun harus demikian. Sekali pun kita diiming-imingi berbagai kedudukan, harta, dan kekuasaan, maka kita pun tidak boleh terbeli.
Dalam berdakwah, Rasulullah saw. senantiasa mendekatkan diri kepada Allah untuk semakin dekatnya pertolongan Allah, maka kita pun harus menirunya. Kita harus meningkatkan ketakwaan dalam diri kita agar kita bisa mendekatkan diri pada Allah. Kita bisa mengadakan training internal dalam diri aktivis gerakan dakwah, kita bisa mengadakan mabit (malam bina takwa), dan lain sebagainya. Kedekatan kita kepada Allah, tentu akan berpengaruh pada datangnya nashrullah (pertolongan Allah).
Rasulullah tidak menjadikan akhlak sebagai metode berdakwah. Sebab, berakhlaknya Rasulullah saw. bukan lantaran agar orang masuk Islam. Tetapi, karena Rasulullah saw. memang ‘hanya’ melaksanakan perintah Allah untuk selalu berakhlak baik kepada setiap orang, bukan sebagai metode. Kalau pun ada orang kafir Quraisy yang masuk Islam karena keluhuran akhlak beliau, itu karena Allah telah memberikan hidayah kepadanya, dan bukan lantaran Rasulullah menjadikannya metode berdakwah. Kita pun demikian. Kita menjadi pengemban dakwah hendaknya menghiasi diri kita dengan akhlakul karimah sebagai bentuk pelaksanaan atas seruan Islam, bukan semata-mata sebagai cara agar orang masuk dalam gerakan dakwah kita.
Rasulullah saw. melakukan pembinaan secara jama’iyah untuk menjelaskan keburukan sistem jahiliyah dan menjelaskan kebaikan sistem Islam di hadapan banyak orang, seperti pada keluarga beliau. Maka kita pun melakukannya. Kita adakan berbagai macam daurah, seminar, training, diskusi publik, Halqah Islam dan Peradaban, muktamar-muktamar, dan berbagai konferensi.
Rasulullah saw. memiliki maktab yang digunakan sebagai tempat-tempat pertemuan para sahabat, yaitu di Darul Arqam. Maka kita pun demikian, keberadaan maktab memang penting sebagai pusat pertemuan para aktivis gerakan dakwah.
Rasulullah saw. juga melakukan pembinaan instensif kepada para sahabat sebagai modal untuk berdakwah. Demikian pula kita. Kita harus selalu aktif mengikuti halqah-halqah yang diadakan gerakan dakwah sebagai bentuk penguatan dalam diri aktivis sebagai modal untuk berdakwah dan mengajak orang lain bergabung dalam jamaah dakwah tersebut.
Rasulullah saw. dan para sahabat melakukan kontak-kontak dengan masyarakat sebagai bentuk dari aktivitas dakwah. Sebagaimana yang dilakukan Abu Bakar Ash Shidiq kepada orang-orang Quraisy seperti Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan yang lainnya. Maka kita pun harus sama melakukannya. Kita harus kontak dengan banyak orang, sebagai bentuk realisasi kewajiban dakwah.
Rasulullah saw. mengontak tokoh-tokoh yang memiliki kekuatan (ahlul quwwah) untuk dimintai pertolongan untuk menolong dakwah Rasulullah saw. Misalnya Rasulullah saw. mengontak Bani Tsaqif, Bani Syaiban bin Tsa’labah, Bani Amr bin Sha’sha’ah, Bani Bakar bin Wail, Bani Kindah, Bani Kalb, Bani Hanifah, serta Bani Aus dan Khazraj. Kita pun demikian pula. Kita juga harus melakukan thalabun nushrah (mencari pertolongan) kepada para pemilik kekuatan. Jika Rasulullah menolak Bani Amr bin Sha’sha’ah karena mereka mengajukan syarat, maka kita pun harus menolak ketika ada ahlul quwwah yang meminta syarat tertentu kepada kita.
Demikianlah. Dakwah Rasulullah telah memiliki metode yang khas. Dakwah Rasulullah telah mampu membangkitkan umat. Kita pun, insya Allah (jika memang mengikuti metode Rasulullah saw.) akan bisa pula membangkitkan umat.
Sedikit saja kita melenceng dari metode dakwah Rasulullah saw., maka tidak bisa dikatakan kita mengikuti jalan sebagaimana jalan yang ditempuh Rasulullah saw. Oleh karena itu, jika kita memang mengaku mengikuti metode Rasulullah saw., maka kita pasti akan menjumpai hal-hal sebagaimana yang dialami Rasulullah. Jika yang kita jumpai berlawanan dengan apa yang dijumpai Rasulullah saw., bisa dipastikan jalan yang kita lalui, bukanlah jalan yang dilalui Rasulullah saw. Sekali pun endingnya, tujuannya adalah sama. [Ust. Agus Trisa]
Wallahu a'lam bish shawab.









0 komentar:
Posting Komentar