TEGAKKAN SYARIAH DAN KHILAFAH

Gema Pembebasan Unsri/ Bersatu, Bergerak, Tegakkan Ideologi Islam

.

.
Tampilkan postingan dengan label inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspiratif. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Januari 2014

Indonesia ; antara Demokrasi, Khilafah, dan Persatuan Ummat



Tirani Kapitalisme dibawah bayang – bayang Demokrasi
Banyak sistem pemerintahan yang telah dicoba, dan akan terus dicoba di dunia yang penuh dosa dan duka ini. Tidak seorang pun berpura-pura bahwa demokrasi adalah sistem pemerintahan yang sempurna atau pemenuh semua harapan. Bahkan, pantas dikatakan bahwa demokrasi adalah sistem pemerintahan terburuk selain bentuk pemerintahan lain yang telah dicoba dari waktu ke waktu.” (Winston Churchill, Hansard [transkrip parlemen], 11 November 1947)

Sebenarnya, kegagalan demokrasi adalah sesuatu yang lumrah. Aristoteles beribu-ribu tahun lalu pernah menyatakan: “Baik aristokrasi maupun demokrasi memiliki potensi korupsi yang meningkat secara eksploitatif, bertepatan dengan penyalahgunaan kekuasaan dan kebebasan yang manipulatif. Korupsi akan membawa pada revolusi, ketika demokrasi menelanjangi dirinya sendiri dan menjadi bentuk otokrasi, salah satunya oligarki.” Hal ini menjadi biasa saja, karena bagaimanapun kedaulatan di tangan rakyat adalah sesuatu yang utopis Tidak pernah ada suatu ahli politik mana pun yang sanggup merumuskan konsep demokrasi yang benar, mulai dari jaman Plato hingga Obama saat ini. Demokrasi hanya memindahkan kekuasan dari tangan para raja, bangsawan, ataupun gerejawan kepada otoritarian lainnya, yaitu tidak lain adalah para pemilik modal. Menjadi biasa saja, sebab demokrasi memerlukan biaya yang mahal dalam prosesnya. Hingga akhirnya politik menjadi komoditas laiknya dagang sapi di pasar-pasar, sehingga kebijakan dari rahim demokrasi adalah kebijakan yang sekali lagi jika dipikirkan hanya berupa omong kosong perjuangan atas nama rakyat. Karena telah jelas, bahwa semua ini dilakukan atas kepentingan para pemilik modal kapitalis penjajah asing.

di Indonesia dengan fakta kesenjangan antara pihak capital yang semakin kaya dan memonopoli sementara rakyat yang semakin dalam posisi terpojok dan melarat oleh karena kebijakan neolib yang lahir dari proses musyawarah transaksional antara penguasa dan pengusaha, antara DPR dan kepentingan korporasi walhasil korupsi secara berjamaah akibat penerapan system demokrasi meniscayakan proyek liberalisasi besar-besaran pasca reformasi. Dampaknya Selama sembilan tahun terakhir, total utang naik dari Rp1.000 triliun menjadi Rp2.100 triliun. Namun tidak ada pembangunan  infrastruktur yang bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat,”

inilah fakta Demokrasi dimana rakyat hanya dibohongi, dikhianati, dan terdzalimi demi menyenangkan tuan – tuan imperialis barat yang telah menguasai sebagian besar kekayaan alam negeri ini atas persetujuan DPR dengan berbagai paket Undang Undang Liberal. Sebagai contoh, ekplorasi migas hampir 90% dikuasai asing dan swasta, di antaranya Chevron 45% (AS), Total 10% (Perancis), Conaco 8% (AS) dan Medco 6%. Tambang emas sebagian besar dikuasai oleh PT Freeport (AS) dengan produksi tahun 2010 sebesar 61.832,74 kg dan PT Newmont Nusa Tenggara (AS) 22.930,00 kg. Tembaga juga dikuasai PT Freeport (AS) sebesar 632.325,01 ton dan PT Newmont Nusa Tenggara (AS) dengan produksi 246.051,00 ton. Sehingga wajar saja berbagai bentuk gerakan separatism di Indonesia tumbuh dan berkembang selain karena gerakan separatism didukung juga oleh imperial asing yang bernafsu mengeruk kekayaan alam Indonesia dengan isu SARA dan Separatisme, konflik SARA & Gerakan Separatism juga disebabkan karena pemerintah dengan demokrasi dan kebebasannya membiarkan negeri ini terus dirampok sementara rakyat ditelantarkan bahkan dirampok dengan pemberlakuan pajak yang semakin ketat dan pencabutan subsidi yang menjadi kewajiban pemerintah sebagai pelayan rakyat.

Khilafah, solusi Penyatuan Kembali Indonesia dan Dunia Islam
Meskipun memiliki daratan dan lautan yang lebih luas, dengan tentara yang lebih banyak dan kekayaan alam yang melimpah; begitu juga dengan sumberdaya manusia yang lebih, dari segi jumlah maupun kualitas; tapi umat Islam saat ini, dibanding dengan umat lain di dunia, tetaplah tidak bisa disebut sebagai umat yang terbaik (khayru ummat), seperti yang dikatakan Allah SWT dalam al-Quran. Umat Islam kini terpuruk di segala bidang. Hidup dalam kondisi terpecah-belah ke dalam lebih dari 57 negara dengan berbagai problem yang membelit. Kondisinya demikian buruk, hingga tidak mampu bersaing dengan negara-negara kecil yang boleh jadi tidak nampak di peta dunia.Tidak terkecuali Indonesia. Sekalipun memiliki tentara dalam jumlah cukup besar dengan jumlah penduduk terbesar nomor empat di dunia,1 serta memiliki potensi sumberdaya pertanian dan kekayaan mineral yang sangat melimpah, tapi semua itu tidak mampu membuat rakyatnya hidup dalam kebaikan. Justru sebaliknya, rakyat hidup dalam penderitaan. Kemiskinan, kebodohan, kedzaliman, ketidakadilan dan berbagai problem lain, termasuk penjajahan dalam segala bentuknya, senantiasa mewarnai kehidupan masyarakat dari negara Muslim terbesar di dunia ini. Semua potensi dan kekayaan alam yang dimiliki seolah tidak memberikan arti apa-apa buat hidup rakyatnya.

Mengapa semua itu terjadi? Bila ditelaah secara jernih, dapat disimpulkan bahwa semua persoalan yang saat ini tengah dihadapi oleh dunia Islam, termasuk Indonesia, berpangkal pada pertama, penerapan demokrasi yang jelas merupakan pemerintahan Tiran mengatasnamakan rakyat dan kebebasan, kedua, tidak diterapkannya sistem Islam di tengah-tengah masyarakat. Masalah utama ini kemudian memicu terjadinya berbagai persoalan ikutan, seperti kemiskinan, kebodohan, korupsi, kerusakan moral, kedzaliman, ketidakadilan, disintegrasi dan penjajahan dalam segala bentuknya, baik penjajahan secara langsung seperti yang kini terjadi di Irak dan Afghanistan, ataupun penjajahan secara tidak langsung di bidang ekonomi dan politik seperti yang terjadi dinegri ini, Indonesia. Allah SWT. menjelaskan sumber dari berbagai persoalan itu dalam firman-Nya:
وَمَنْأَعْرَضَعَنْذِكْرِيفَإِنَّلَهُمَعِيشَةًضَنْكًا
Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” (Q.s. Thaha [20]: 124)

Karena itu, jika ada satu atau lebih negeri Islam saat ini menjelma menjadi sebuah Daulah Khilafah, yang di dalamnya diterapkan sistem Islam, niscaya negara tersebut akan menjadi titik awal bagi proses reunifikasiatau penyatuan kembali seluruh dunia Islam menuju terwujudnya sebuah negara yang paling kuat di dunia. Sejak kemerdekaan hingga lebih dari enam dekade, sekulerisme mengatur Indonesia, terlepas dari siapa pun yang berkuasa. Tidak diterapkannya sistem Islam telah nyata membawa negara ini dalam keterpurukan. Rakyat Indonesia terus menerus hidup dalam berbagai krisis yang tidak berkesudahan.

Sesungguhnya kegagalan sistem sekuler, baik berbentuk diktatorisme ataupun demokrasi, merupakan sebuah keniscayaan. Karena sistem sekuler telah memberikan hak kepada manusia, bukan Allah SWT – Sang Pencipta manusia dan alam semesta – untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah; mana yang halal dan mana yang haram. Maka, tidaklah mengherankan bila banyak perkara yang jelas-jelas diharamkan oleh Allah SWT justru dilakukan oleh rezim sekuler ini, seperti riba atau bunga bank, pornografi-pornoaksi, dan bekerjasama dengan para kafir imperial untuk menghalangi umat Islam dalam menerapkan Islam secara total. Sebaliknya, banyak perkara yang jelas-jelas diwajibkan oleh Allah SWT justru diabaikan, seperti menerapkan uqubat (qishashrajam, potong tangan dan sebagainya),mengirim pasukan untuk membela negeri-negeri Muslim yang terjajah, menjaga darah dan kehormatan umat Islam, melindungi kemurnian akidah Islam serta memenuhi berbagai kebutuhan pokok untuk seluruh umat manusia.

Hanya Sistem Islam yang Bisa Membangkitkan Umat Islam
Sistem sekuler yang saat ini diterapkan di Indonesia, juga di negeri-negeri Muslim lainnya, tidak akan pernah bisa menghasilkan kebaikan dan kemajuan, karena sistem itu adalah sistem yang rusak dan bertentangan dengan akidah Islam. Sistem ini telah nyata-nyata menjauhkan umat Islam dari harta miliknya yang paling berharga, yaitu kecintaan kepada agama Allah SWT. Karenanya, sistem ini tidak pernah sungguh-sungguh mendapatkan dukungan dari umat. Bagaimana akan tercipta kebaikan dan kemajuan dalam sebuah masyarakat, bila sistem yang diterapkan tidak sepenuhnya mendapat dukungan dari rakyatnya?

Bila sistem yang diterapkan sejalan dengan akidah umat, maka akan terbentuk sinergi yang produktif antara sistem dan umat, sehingga akan terjadi dinamika luar biasa di tengah-tengah masyarakat. Dalam bentangan sejarah dunia, Islam terbukti berhasil membangkitkan masyarakat, dari yang sebelumnya hidup dalam kebodohan dengan sebuah kebangkitan yang luar biasa dan tidak pernah bisa ditandingi oleh kebangkitan yang terjadi dalam masyarakat manapun; menjadi sebuah masyarakat mulia, yang mengawali terbentuknya peradaban agung yang berkemajuan. Itulah masyarakat Islam pertama dalam naungan Daulah Islam, yang disebut juga Daulah Khilafah pertama di Madinah al-Munawwarah. Selama lebih dari satu milenium, peradaban Islam nan gemilang itu menjadi mercusuar bagi seluruh umat manusia.

Dalam masyarakat Islam, sistem Islam bekerja mengatur masyarakat dengan sebaik-baiknya sehingga kerahmatan yang dijanjikan benar-benar dapat terwujud. Dalam kaitannya dengan perlindungan kaum minoritas, misalnya, telah terbukti Khilafah mampu melindungi mereka. Ketika orang-orang Yahudi terpaksa harus mengungsi akibat praktek inkuisisi yang dilakukan oleh orang-orang Kristen di Spanyol pada abad ke-15, mereka mendapat perlindungan dari Khalifah Bayazid II. Wilayah Negara Islam menjadi tempat tinggal mereka yang baru. Nyatalah bahwa Daulah Khilafah menjadi tempat yang nyaman bagi siapa pun. Semua warga negara Daulah Khilafah, tanpa memandang keyakinan, agama, ras dan bahasa, baik Muslim maupun non-Muslim, dijamin akan menikmati keadilan dan keamanan. Keadaan seperti ini tentu tidak bisa dipenuhi oleh sistem selain Islam. Karena itu, wajar bila kemudian Daulah Khilafah mendapatkan loyalitas dari rakyat yang hidup di dalam naungannya, termasuk dari kalangan non-Muslim. Pasukan Salib yang datang menyerbu wilayah Syam ketika itu, terhenyak ketika mereka mendapati kenyataan bahwa mereka harus berhadapan dengan pasukan yang seagama, yakni orang-orang Kristen di Syam, yang terjun dalam kancah peperangan untuk mempertahankan Daulah Khilafah, yang telah dianggap sebagai negara mereka sendiri.

Kebangkitan umat Islam di masa lalu terbukti mampu menciptakan kemajuan di segala bidang, termasuk di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan di bidang ekonomi. Itu semua menjadi monumen peninggalan sejarah dunia yang tak terlupakan. Dalam bidang ilmu kedokteran dan astronomi misalnya, Daulah Khilafah jauh lebih maju dibanding dengan negara-negara lain pada waktu itu. Buktinya, universitas-universitas di berbagai wilayah Islam saat itu menjadi tempat utama buat orang-orang Eropa, termasuk para pangeran dan putri dari berbagai kerajaan di Eropa, untuk menimba ilmu. Salah satu ukuran orang berilmu ketika itu adalah kemampuannya dalam menguasai bahasa Arab, karena bahasa Arab seakan menjadi kunci harta karun ilmu yang memang saat itu kebanyakan ditulis dalam bahasa Arab.

Daulah Khilafah juga menjamin tersedianya akses bagi semua orang untuk mendapatkan kekayaan. Di saat yang sama mencegah kekayaan tersebut terpusat di tangan segelintir orang. Sepanjang kepemimpinan Daulah Khilafah, ketersediaan berbagai kebutuhan pokok (primer) bagi seluruh warga negara berhasil diamankan. Sementara itu, kesempatan untuk mendapatkan kebutuhan pelengkap (sekunder dan tersier) senantiasa terbuka bagi semua orang. Demikian sejahteranya masyarakat di masa Khalifah Umar bin Abdul Azis, misalnya, pernah terjadi di wilayah Afrika, harta zakat tidak bisa dibagikan di sana karena tidak ada seorang pun yang layak menerimanya. Demikian pula selama berabad-abad di bawah pemerintahan Islam, masyarakat di anak benua India menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia.

Dalam konstelasi politik internasional, Daulah Khilafah menjadi negara nomor satu selama berabad-abad tanpa pesaing. Daulah Khilafah berhasil menyatukan berbagai sumberdaya yang luar biasa besar yang dimiliki umat Islam dalam sebuah institusi negara yang luasnya mencapai tiga benua. Khilafah telah menggariskan sebuah kebijakan yang dibangun di atas dasar prinsip keadilan dan kebenaran, hingga ia mampu menjadi pemimpin bangsa-bangsa yang ada. Kabar tentang tentang keadilan Daulah Khilafah tersebar luas melintasi perbatasan wilayah kekuasaannya. Hal ini membuat banyak sekali manusia tertarik untuk masuk Islam. Saat wilayah-wilayah itu direbut pasukan Tartar dan tentara Salib, umat Islam di tempat itu tidak sedikit pun menyerah. Mereka terus berjuang hingga akhirnya berhasil merebut kembali wilayah itu dan mengakhiri penjajahan di sana.

Inilah umat terbaik (khayru ummah) yang diturunkan Allah SWT, yang menjadi contoh bagi seluruh umat manusia, sebagaimana firman Allah SWT:
كُنْتُمْخَيْرَأُمَّةٍأُخْرِجَتْلِلنَّاسِتَأْمُرُونَبِالْمَعْرُوفِوَتَنْهَوْنَعَنِالْمُنْكَرِوَتُؤْمِنُونَبِاللَّهِ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Qs. Ali ‘Imran [3]: 110)
Kondisi semacam ini insya Allah dapat diwujudkan kembali asal umat Islam mau kembali kepada rahasia kejayaan Islam, yakni diterapkannya sistem Islam secara kaffah melalui Daulah Khilafah di satu atau lebih negeri Muslim yang kuat, sebagai titik awal proses penyatuan kembali atau reunifikasi seluruh dunia Islam.

Begitulah, hidup di bawah naungan Daulah Khilafah dipastikan akan sejalan dengan akidah umat dan sejalah pula dengan kebutuhan riil masyarakat seperti tersedianya fasilitas kesehatan (rumah sakit, rumah obat, dll), sarana pendidikan (sekolah/kampus, perpustakaan, fasilitas laboratorium, dll), serta berbagai infrastuktur untuk melayani masyarakat; karena, setiap manusia tentu ingin menjalani hidup di dunia ini dengan baik (hasanah). Karena itu, merupakan kewajiban Daulah Khilafah untuk menyediakan itu semua. Sebab, Daulah Khilafah adalah Daulah Ri’ayah (negara yang mengurusi kehidupan rakyat).

Untuk tujuan itu, dalam sistem pemerintahan Islam, negara ditopang oleh sejumlah struktur yang ditetapkan oleh syariah, diantaranya Khalifah (kepala negara), para Mu’awin (pembantu khalifah), para Wali (kepala daerah), hingga para Qadhi (hakim), petugas administrasi, dan Majelis Umat. Sedangkan dalam sistem ekonomi Islam, terdapat berbagai ketentuan syariah yang berkaitan dengan tanah, kepemilikan, industri, perdagangan dalam dan luar negeri, dan sistem lainnya, yang semua itu akan menjamin terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan di atas. Sementara terkait dengan politik luar negeri, terdapat ketentuan syariah tentang kewajiban membangun tentara yang kuat dengan kemampuan dan perlengkapan yang memadai guna mengemban tugas dakwah ke seluruh penjuru dunia.

Semua kewajiban syariah di atas dan yang sejenis wajib dilaksanakan oleh Khalifah, bukan yang lain. Dan seluruh umat Islam wajib melakukan pengawasan dan koreksi agar pelaksanaan kewajiban itu berjalan dengan baik. Karenanya, Gerakan Mahasiswa Pembebasan Menyeru kepada seluruh elemen masyarakat khususnya kalangan Intelektual Pemuda-Mahasiwa untuk  :
1.      meningkatkan soliditas antar gerakan pemuda dan mahasiswa serta menyamakan visi dan arah perjuangan dengan menjadikan Syariah Islam sebagai solusi kebangkitan dari segala keterpurukan yang melanda negeri ini, juga sebagai Perekat dan Pemersatu Ummat bukan hanya di Indonesia tapi diseluruh dunia Islam. Allah SWT berfirman :
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, kemudian Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat-Nya orang-orang yang bersaudara, dan (ingatlah ketika) kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.s. Ali ‘Imran [3]: 103)
2.      Membuang Sistem Kufur Demokrasi yang telah terbukti gagal menata negeri ini bahkan justru telah menyebabkan negeri ini semakin berada pada jurang keterpurukan, tercerai-berai,akibat terjajah dan dirampok oleh kapital imperial Asing.  
3.      Melepaskan Ketaatan dari Rezim Penguasa yang masih menerapkan sIstem demokrasi baik yang bercorak sosialisme-komunis maupun kapitalisme-liberal.
4.      Mendukung tegaknya Khilafah Islamiyyah yang akan melindungi dan menyejahterakan rakyat dengan penerapan Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin. Rasulullah SAW bersabda:
Akan ada pada akhir umatku seorang khalifah yang memberikan harta secara berlimpah dan tidak terhitung banyaknya. (HR Muslim).

Minggu, 19 Januari 2014

CARA MENGUKUR METODE DAKWAH KITA (APAKAH SUDAH SESUAI METODE DAKWAH RASULULLAH SAW. ATAUKAH BELUM SESUAI ?



Bagaimana cara mengukur aktivitas dakwah kita, apakah sudah sesuai dengan manhaj dakwah Rasulullah saw. ataukah belum?

Caranya tidak lain adalah mengikuti jalan yang ditempuh oleh Rasulullah saw. ketika beliau menegakkan Islam di Madinah. Jika kita benar-benar meneladani aktivitas-aktivitas beliau ketika berdakwah niscaya kita pun akan menjumpai berbagai macam ‘pemandangan’ sebagaimana yang dijumpai Rasulullah saw ketika berdakwah. Kita juga akan mendapati berbagai peristiwa sebagaimana berbagai peristiwa yang pernah dialami Rasulullah saw. dalam upayanya mendakwahkan Islam. Oleh karena itu, ketika kita sudah menetapkan manhaj dakwah Rasulullah sebagai manhaj dakwah kita, maka apa yang akan dialami Rasulullah dan apa yang dilihat Rasulullah tentu akan kita lihat pula. Tetapi jika kita mengaku mengikuti manhaj dakwah Rasulullah saw. namun pemandangan yang kita jumpai berbeda dan berlawanan dengan pemandangan yang dijumpai Rasulullah saw., maka bisa dipastikan bahwa jalan yang kita tempuh bukanlah jalan yang ditempuh Rasulullah saw.

Saya akan membuat satu permisalan bagaimana menyusuri sebuah alur perjalanan agar perjalanan kita sama persis seperti alur perjalanan orang yang akan kita ikuti. Misalnya, kita mau pergi ke Makkah untuk naik haji atau umrah. Saat itu kita ingin mengikuti jalan yang ditempuh Pak Ahmad. Jika kita benar-benar mengikuti dan menyusuri jalan yang ditempuh Pak Ahmad, maka niscaya kita akan mendapati berbagai pengalaman dan pemandangan sebagaimana pengalaman dan pemandangan yang didapati Pak Ahmad. Misalnya, Pak Ahmad pergi haji dengan Shafa Karima Tour. Pak Ahmad berangkat ke Makkah dari Bandara Soekarno-Hatta. Di sana ada bandara internasional yang besar, dan di bandara itu Pak Ahmad melihat hotel-hotel serta berbagai penginapan. Pak Ahmad pergi ke Makkah dengan pesawat Mandala Airlines. Dari maskapai tersebut, Pak Ahmad juga berbagai pelayanan-pelayanan yang memadai.

Jika kita memang benar-benar mengikuti dan menyusuri jalan yang ditempuh Pak Ahmad, maka kita pun akan menjumpai berbagai pemandangan dan pengalaman sebagaimana yang dijumpai Pak Ahmad. Kita pergi haji harus dengan Shafa Karima Tour, bukan dengan Darul Safar Tour atau Mulya Syifa’ Tour, atau yang lainnya. Kita juga harus pergi ke Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta, bukan bandara Adi Sumarmo di Solo, bukan bandara Adi Sucipto di Yogyakarta, bukan bandara Polonia di Medan, bukan bandara Husein Sastranegara di Jawa Barat, atau bandara lain selain Soekarno-Hatta. Dengan begitu kita juga akan mendapati pemandangan sebagaimana pemandangan yang dijumpai Pak Ahmad, misalnya di bandara, kita melihat hotel-hotel dan berbagai macam penginapan. Sama persis seperti yang dijumpai Pak Ahmad. Sebab pemandangan di Bandara Soekarno-Hatta berbeda dengan pemandangan di bandara Adi Sumarmo, bandara Adi Sucipto, bandara Polonia, bandara Husein Sastranegara, atau bandara lainnya.

Selain itu kita juga harus memakai maskapai Mandala Airlines, bukan Simpati, Qantas, atau Garuda Indonesia. Di sana kita juga akan mendapatkan berbagai pelayanan-pelayanan yang memadai seperti yang dirasakan Pak Ahmad. Sekalipun saat itu, Anda sedang tidak bersama Pak Ahmad.

Tetapi jika Anda melenceng sedikit saja dari jalan yang dilalui Pak Ahmad, maka Anda tidak akan menjumpai pemandangan dan pengalaman seperti yang dijumpai Pak Ahmad. Misalnya, Anda memakai Maskapai Garuda Indonesia. Ini sudah berbeda. Pasti yang Anda jumpai, juga akan berbeda dengan yang dijumpai Pak Ahmad. Atau Anda tidak memakai biro haji Shafa Karima, tetapi memakai biro lain seperti Darul Safar Tour, atau Mulya Syifa’ Tour, atau yang lain. Pasti pelayanan yang Anda dapatkan juga tidak sama seperti yang dirasakan Pak Ahmad. Sehingga, dengan sedikit saja kita melenceng dari perjalanan Pak Ahmad, pasti kita akan mendapati berbagai pengalaman dan pemandangan yang berbeda, sekali pun Anda juga akan tetap sampai ke Makkah dan melihat Kakbah. Tetapi sekali lagi, Anda tidak melalui jalan yang dilalui Pak Ahmad.

Dengan analogi tersebut, maka jelaslah sudah bahwa salah satu indikasi kesesuaian manhaj dakwah kita dengan dakwah Rasulullah saw. adalah apa-apa yang bisa kita indera atau yang bisa kita lihat, kita dengar, dan kita rasakan. 

Jika kita benar-benar mengikuti metode Rasulullah saw. dalam mencapai kejayaan dan kemuliaan Islam dan kaum muslimin, maka kita pasti akan mendapati berbagai pengalaman dan pemandangan sebagaimana yang dialami dan didapati Rasulullah saw., sama persis dengan analogi tentang ‘mengikuti Pak Ahmad’ di atas.

Misalnya, Rasulullah saw. berdakwah dengan terang-terangan tanpa sedikit pun ada maksud menyembunyikan sesuatu pun, maka kita pun harus melakukannya pula. Kita tidak boleh bermanis muka dengan masyarakat dengan alasan takut ditolak. Kita harus seperti Rasulullah, tegas dan terang-terangan. Sekali pun masyarakat akan banyak menentang kita. Tidak masalah. Mengapa? Sebab, masyarakat Makkah pada waktu itu juga menentang dakwah Rasul. Jadi, jika dakwah kita ditentang masyarakat, itu adalah suatu keniscayaan dalam berdakwah.

Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dalam kitabnya Nizhamul Islam dalam bab Kaifiyah Da'wah menyebutkan ada tiga konsekuensi dari dakwah, yaitu diterima, ditolak, atau dibiarkan saja. Kesimpulan ini diambil dari fakta dakwah Rasulullah saw., yaitu bahwa dalam berdakwah secara terang-terangan, kadang-kadang Rasulullah diterima, kadang-kadang ditolak, dan kadang-kadang dibiarkan saja (tidak dipedulikan). Inilah jalan dakwah Rasulullah, yaitu terang-terangan dalam berdakwah, tidak ada yang disembunyikan dari masyarakat. Tidak bermanis muka dengan alasan takut ditolak masyarakat.

Kemudian, Rasulullah saw. dan para sahabatnya, membongkar kebobrokan sistem jahiliyah Makkah, dan menghinakan tuhan-tuhan mereka, sehingga Rasulullah pun mendapatkan berbagai halangan dan perlawanan fisik yang keras. Jika kita mengikuti metode dakwah Rasulullah dengan benar, maka kita pun harus membongkar kebobrokan sistem jahiliyah modern yang saat ini diterapkan. Sekali pun kita juga mendapati berbagai hambatan dan perlawanan. Sama persis, seperti yang dialami Rasulullah saw. Kita harus membongkar keburukan sistem demokrasi, sistem kapitalis ribawi, sistem liberalis, dan sebagainya. Semua dibongkar keburukannya dengan tujuan agar orang tidak lagi percaya dengan paham-paham tersebut.

Sama persis dengan yang dilakukan Amar. Ketika dia menjelekkan paham jahiliyah dan menjatuhkan berhala yang disembah kedua orang tuanya (Yasir dan Sumayyah), maka Amar pun dimarahi habis-habisan oleh kedua orang tuanya. Tetapi karena kesabaran Amar dan kecerdasan Amar, maka Yasir dan Sumayyah pun sadar hingga akhirnya keduanya memilih pemahaman baru yang dibawa Amar. Sekali pun akibatnya adalah Yasir dan Sumayyah syahid di tangan kafir Quraisy.

Kita pun harus demikian, sekali pun ketika kita berdakwah kita terus menerus ditolak karena kita telah menghinakan berbagai paham-paham kufur yang dianut masyarakat. Sekali lagi, kita tidak boleh berputus asa.

Rasulullah saw. juga berdakwah dengan pemikiran, melawan pemikiran-pemikiran kufur. Sehingga beliau pun akhirnya harus menghadapi berbagai macam fitnah, mulai dari difitnah sebagai tukang sihir, pendusta, tukang pemutus hubungan nasab, dan sebagainya. Jika kita mengikuti Rasulullah saw. dalam berdakwah, niscaya kita pun akan menjumpai pemandangan yang sama. Kita pun akan terkena berbagai macam fitnah keji dari orang-orang yang tidak menyukai kita. Jadi, janganlah kita takut celaan orang-orang yang mencela. Ingat, ini hanyalah salah satu konsekuensi dalam berdakwah.

Jika kita melihat Rasulullah saw. tidak pernah mendirikan laskar-laskar dalam berdakwah. Sekali pun Rasulullah saw. disiksa dan dizalimi secara fisik. Maka kita pun demikian. Kita tidak perlu membuat-buat laskar-laskar untuk mengantisipasi perlawanan fisik. Tidak perlu, sebab Rasulullah saw. juga tidak melakukannya. Rasulullah berdakwah tetap dengan pemikiran, sekali pun gerakan dakwah Rasulullah diserang secara fisik oleh orang-orang kafir.

Rasulullah saw. berdakwah dengan membentuk kelompok dakwah. Maka kita pun saat ini hendaknya bergabung dalam sebuah kelompok dakwah yang menyeru dalam sebuah aktivitas untuk menuju cita-cita besar, sama persis seperti yang dicita-citakan Rasulullah, yaitu tegaknya Islam. Kelompok dakwah Rasulullah adalah sebuah gerakan politik, bukan gerakan sosial, bukan gerakan akhlaqiyah, bukan lembaga pendidikan, bukan sekolahan, atau yang lainnya. Tetapi sebuah gerakan politik.

Rasulullah saw. berjuang dengan jalur politik. Maka kita pun juga harus berjuang dalam bidang politik sebagaimana jalan yang ditempuh Rasulullah saw. Beliau berdakwah tidak semata-mata menegakkan tauhid dalam diri tiap-tiap orang Makkah. Tetapi beliau berupaya sekuat tenaga meraih kekuasaan untuk bisa menegakkan Islam. Untuk itulah beliau mencari nushrah (pertolongan) dari para ahlul quwwah yang memiliki kekuatan. Beliau mendakwahi para pemilik kekuatan untuk bisa beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan mau dipimpin oleh Rasulullah saw. Beliau telah mendakwahi Bani Kalb, Bani Hanifah, Bani Tsaqif, Bani Amr bin Sha’sha’ah, Bani Aus, Bani Khazraj, dan bani-bani lainnya di tanah Arab.

Rasulullah berjuang juga tidak terlibat dalam sistem kufur. Bahkan ketika beliau diajak berkompromi dan berkoalisi, maka beliau pun menolak. Hal yang sama juga harus kita lakukan. Kita tidak boleh berkompromi dengan sistem kufur yang ada dan menolak segala bentuk upaya kompromi atau koalisi. Ingat, Rasulullah saw. tidak pernah terbeli. Maka kita pun tidak boleh terbeli. Suatu saat, ketika orang kafir Quraisy merasa kewalahan menghadapi gerakan dakwah Rasulullah, mereka pun mendatangi Abu Thalib untuk memohon kepada Rasulullah agar Muhammad menghentikan laju dakwahnya. Sebagai imbalannya, mereka akan mengangkat Rasulullah menjadi pemimpin, memberikan harta, dan wanita. Tetapi Rasulullah menolak. Rasulullah hanya menerima kepemimpinan atas dasar Islam, bukan atas dasar selain Islam. Kita pun harus demikian. Sekali pun kita diiming-imingi berbagai kedudukan, harta, dan kekuasaan, maka kita pun tidak boleh terbeli.

Dalam berdakwah, Rasulullah saw. senantiasa mendekatkan diri kepada Allah untuk semakin dekatnya pertolongan Allah, maka kita pun harus menirunya. Kita harus meningkatkan ketakwaan dalam diri kita agar kita bisa mendekatkan diri pada Allah. Kita bisa mengadakan training internal dalam diri aktivis gerakan dakwah, kita bisa mengadakan mabit (malam bina takwa), dan lain sebagainya. Kedekatan kita kepada Allah, tentu akan berpengaruh pada datangnya nashrullah (pertolongan Allah).

Rasulullah tidak menjadikan akhlak sebagai metode berdakwah. Sebab, berakhlaknya Rasulullah saw. bukan lantaran agar orang masuk Islam. Tetapi, karena Rasulullah saw. memang ‘hanya’ melaksanakan perintah Allah untuk selalu berakhlak baik kepada setiap orang, bukan sebagai metode. Kalau pun ada orang kafir Quraisy yang masuk Islam karena keluhuran akhlak beliau, itu karena Allah telah memberikan hidayah kepadanya, dan bukan lantaran Rasulullah menjadikannya metode berdakwah. Kita pun demikian. Kita menjadi pengemban dakwah hendaknya menghiasi diri kita dengan akhlakul karimah sebagai bentuk pelaksanaan atas seruan Islam, bukan semata-mata sebagai cara agar orang masuk dalam gerakan dakwah kita.

Rasulullah saw. melakukan pembinaan secara jama’iyah untuk menjelaskan keburukan sistem jahiliyah dan menjelaskan kebaikan sistem Islam di hadapan banyak orang, seperti pada keluarga beliau. Maka kita pun melakukannya. Kita adakan berbagai macam daurah, seminar, training, diskusi publik, Halqah Islam dan Peradaban, muktamar-muktamar, dan berbagai konferensi.

Rasulullah saw. memiliki maktab yang digunakan sebagai tempat-tempat pertemuan para sahabat, yaitu di Darul Arqam. Maka kita pun demikian, keberadaan maktab memang penting sebagai pusat pertemuan para aktivis gerakan dakwah.

Rasulullah saw. juga melakukan pembinaan instensif kepada para sahabat sebagai modal untuk berdakwah. Demikian pula kita. Kita harus selalu aktif mengikuti halqah-halqah yang diadakan gerakan dakwah sebagai bentuk penguatan dalam diri aktivis sebagai modal untuk berdakwah dan mengajak orang lain bergabung dalam jamaah dakwah tersebut.

Rasulullah saw. dan para sahabat melakukan kontak-kontak dengan masyarakat sebagai bentuk dari aktivitas dakwah. Sebagaimana yang dilakukan Abu Bakar Ash Shidiq kepada orang-orang Quraisy seperti Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan yang lainnya. Maka kita pun harus sama melakukannya. Kita harus kontak dengan banyak orang, sebagai bentuk realisasi kewajiban dakwah.

Rasulullah saw. mengontak tokoh-tokoh yang memiliki kekuatan (ahlul quwwah) untuk dimintai pertolongan untuk menolong dakwah Rasulullah saw. Misalnya Rasulullah saw. mengontak Bani Tsaqif, Bani Syaiban bin Tsa’labah, Bani Amr bin Sha’sha’ah, Bani Bakar bin Wail, Bani Kindah, Bani Kalb, Bani Hanifah, serta Bani Aus dan Khazraj. Kita pun demikian pula. Kita juga harus melakukan thalabun nushrah (mencari pertolongan) kepada para pemilik kekuatan. Jika Rasulullah menolak Bani Amr bin Sha’sha’ah karena mereka mengajukan syarat, maka kita pun harus menolak ketika ada ahlul quwwah yang meminta syarat tertentu kepada kita.

Demikianlah. Dakwah Rasulullah telah memiliki metode yang khas. Dakwah Rasulullah telah mampu membangkitkan umat. Kita pun, insya Allah (jika memang mengikuti metode Rasulullah saw.) akan bisa pula membangkitkan umat.

Sedikit saja kita melenceng dari metode dakwah Rasulullah saw., maka tidak bisa dikatakan kita mengikuti jalan sebagaimana jalan yang ditempuh Rasulullah saw. Oleh karena itu, jika kita memang mengaku mengikuti metode Rasulullah saw., maka kita pasti akan menjumpai hal-hal sebagaimana yang dialami Rasulullah. Jika yang kita jumpai berlawanan dengan apa yang dijumpai Rasulullah saw., bisa dipastikan jalan yang kita lalui, bukanlah jalan yang dilalui Rasulullah saw. Sekali pun endingnya, tujuannya adalah sama. [Ust. Agus Trisa]

Wallahu a'lam bish shawab.

Jumat, 17 Januari 2014

KETIKA IZZAH MASIH MILIK KITA



Beberapa kisah sejarah Berikut ini menunjukkan betapa besar dan agung kemuliaan yg pernah disandang oleh kaum muslimin:

Surat Kaisar Romawi kpd Mu'awiyah berkaitan dgn pecahnya perselisihan antara Mu'awiyah dan Ali bin Abi Thalib.

Dari Kaisar Romawi kpd Mu'awiayah:
Kami telah mengetahui perselisihan yg terjadi antara anda dan Ali bin Abi Thalib, dan menurut penilaian kami, andalah yg paling berhak menempati posisi sebagai khalifah, jika saja tuan memerintahkan padaku niscaya aku akan mengirimkan kepadamu sejumlah pasukan yg akan membawakan kepadamu kepala Ali bin Abi Thalib.

Surat kaisar romawi ini pun dibalas oleh Mu'awiyah:

Dari Mu'awiyah kepada Heraklius.

Ini adalah perselisihan antara dua saudara , lalu mengapa anda ingin turut campur dalam urusan mereka berdua.
Jika engkau tidak membungkam mulutmu sendiri maka aku akan mengirim kepadamu satu armada pasukan, barisan pertamanya telah sampai kepadamu dan barisan terakhirnya masih ditempatku hanya untuk mendatangkan kepalamu untukku agar aku serahkan kepada Ali bin Abi Thalib.

Demikianlah keadaan kita saat dahulu kita sangat mulia.

================================

Khalid bin Walid pernah mengirim sepucuk surat kepada kisra
Dalam surat itu beliau berkata;

Masuk lah kedalam islam niscaya engkau akan selamat, atau jika engkau menolaknya niscaya aku akan mendatangimu dengan sejumlah kesatria yg sangat mencintai kematian seperti kalian mencintai kehidupan...

Tatkala Kisra membaca surat tersebut, ia segera mengirim utusannya kepada kaisar cina, memohon bala bantuan, kaisar cina kala itu hanya membalas permintaan kisra dengan ucapan berikit ini:

Wahai kisra, aku sama sekali tidak memiliki kekuatan melawan suatu kaum yg jika mereka bertekad mencabut sebuah gunung niscaya mereka sanggup untuk melakukannya.

Duhai..kemulaan apakah yg mereka miliki ini.. ?
Demikianlah keadaan kita kala kita dahulu masih mulia.

================================

Pada zaman kekuasaan al Utsmaniyah dahulu kapal kapal armada perang mereka jika melintasi pelabuhan pelabuhan eropa,serentak seluruh gereja di kota2 pesisir pantai itu mengehentikan pukulan lonceng2 gereja sebab mereka sangat takut jangan sampai hal itu dapat memancing kaum muslimin untuk menaklukkan negri mereka.

================================

Di kisahkan bahwa pada abad pertengahan salah seorang pendeta berkebangsaan Italia berdiri disebuah lapangan disalah satu kota italia dan berkhutbah, didalam khotbahnya itu ia mengatakan:

Sungguh merupakan perkara yg benar2 sangat memilukan manakala saat ini kita melihat para remaja nasrani benar benar telah meneladani orang2 islam berkebangsaan arab itu, dalam seluruh model berpakaian mereka, gaya hidup dan pemikiran mereka, bahkan seorang pemuda nasrani jika ia ingin menunjukkan kebanggaannya dihadapan teman wanitanya si pemuda itu akan mengatakan kpd teman wanitanya tersebut sebuah ungkapan cinta dgn bhs Arab " uhibbuki " (aku mencintaimu) sekedar ingin menunjukkan kepada wanita tersebut bahwa betapa dgn bhs arab yg baru saja ia gunakan itu ia merasa sangat maju dan moderen.

Hal itu terjadi ketika dahulu kita masih sangat mulia.

================================

Pada masa pemerintahan Al 'utsmaniyah dahulu, disetiap pintu rumah tergantung dua buah alat pengetuk pintu, besar dan kecil.

Ketika alat pengetuk pintu yg besar digunakan oleh tamu, maka pemilik rumah akan segera mengetahui , bahwa tamu yg di luar itu adalah seorang pria , sehingga orang yg pergi membukakan pintu untuknya adalah pria pula.
Dan sebaliknya, jika alat pengetuk yg berukuran kecil digunakan oleh tamu, maka diketahui pula bahwa tamu itu adalah seorang wanita , sehingga istri pemilik rumah lah yg pergi membukakan pintu untuknya.

Betapa dahulu kita sangat amat mulia.

Mari raih kembali kemuliaan itu!


Hiduplah mulia dibawah naungan khilafah tinggalkan demokrasi, Bring back Islam!

Jazaakumullah khairan katsiran

Komentar Sahabat

Download Ebook Pemikiran Gratis

.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

JOIN WITH US

JOIN WITH US

SEKRETARIAT

SEKRETARIAT