TEGAKKAN SYARIAH DAN KHILAFAH

Gema Pembebasan Unsri/ Bersatu, Bergerak, Tegakkan Ideologi Islam

.

.

Kamis, 19 Juni 2014

Undang - undang R.I No 2 Thn 2008 Tentang Partai Politik (Adakah Syariah Bisa Tegak dengan Demokrasi??




ASAS DAN CIRI Partai Politik
 

Pasal 9
(1) Asas Partai Politik tidak boleh bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.(2) Partai Politik dapat mencantumkan ciri tertentu yang mencerminkan kehendak dan cita-cita Partai Politik yang tidak bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.(3) Asas dan ciri Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) merupakan penjabaran dari Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pasal 13
Partai Politik berkewajiban:a. mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan peraturan perundang-undangan;

------------------------------------ ##### ------------------------------------------

Jika ada partai islam yang mengaku ingin menegakkan syariah islam dalam system demokrasi, di pastikan mereka itu pembohong dan pendusta!! dan dipastikan juga bahwa mereka terikat dengan UU yang tercantum di atas...

Seorang Muslim wajib terikat dengan seluruh perintah dan larangan Allah, baik dalam perbuatan, perkataan maupun tindakan; kecil ataupun besar. Allah SWT. berfirman:

”Dan tidaklah layak bagi orang Mukmin laki-laki maupun bagi orang Mukmin perempuan, jika Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) dalam urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Q.s. al-Ahzab [33]: 36).

”Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (Q.s. al-Maidah [05]: 49)

Artinya Mentaati atau Membuat perundang-undangan dengan berpijak kepada UUD Kufur adalah wujud tindakan berhukum kepada selain syariat Allah. Padahal, meninggalkan Kitab dan Sunnah, secara syar’i, hukumnya haram. Allah berfirman:

”Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putera Maryam, padahal mereka Hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (Q.S. at-Taubah: [09]: 31)

”Akan ada para penguasa. Mereka ada yang melakukan kemakrufan dan juga kemunkaran. Maka, siapa saja yang mengetahui (kemunkarannya dan tidak mengikutinya), maka dia terbebas dari dosa. Dan siapa saja yang mengingkari (kemungkarannya), maka dia selamat. Tetapi, siapa saja yang rela dan mengikutinya (maka, dia akan celaka). ” (H.R. Muslim)

----------------------------------- ######## ----------------------------------

Artinya Ikut pemilu, Dalam system demokrasi, hukumnya haram. Tidak halal seorang Muslim mewakilkan urusannya kepada calon presiden yang menerapkan system demokrasi, sekuler. baik di pemerintahan maupun legislatif.

Berdasarkan hal tersebut, aktivitas memilih penguasa dan wakil rakyat untuk melaksanakan hukum sekuler tidaklah dibolehkan. Karenanya, akad wakalah untuk melakukan aktivitas-aktivitas tersebut juga tidak dibolehkan.

"al washilaatiil ilal haroomi haroomun"(sarana yang menghantarkan kepada keharaman adalah haram)

Demokrasi merupakan sistem turunan dari ideologi kufur kapitalisme. Di dalamnya mengandung unsur liberalisme, hedonisme serta nasionalisme yang jelas sebagai biang kerok keterpurukan umat diseluruh dunia saat ini.

Bagaimana tidak, demokrasi yang diharapkan dapat memberi kesejahteraan, sama sekali tidak bisa membuktikan hal itu, justru malah sebaliknya mengacaukan tatanan kehidupan umat.

Kapitalisme kini telah nyata tanpa malu mencuri harta kaum muslimin dan membuat umat menderita di negerinya sendiri, padahal jelas harta kekayaan alam negri muslim sungguh luar luar biasa, namun kini malah semua harta itu hampir binasa. Lantas apa yang harus dibanggakan dan diharapkan dari demokrasi?

“Barat mengubah strategi penjajahannya dengan mengikat negara-negara yang diberi kemerdekaan dengan utang dan bantuan pembangunan” (Abdurrahman al-Maliki)

tulah taktik baru yang dijalankan penjajah kapitalisme. John Perkins dalam bukunya “Confessions of an Economic Hit Man”, menjelaskan beberapa hal diantaranya bahwa,

• AS akan memberi utang kepada sebuah negara hingga sulit untuk melunasinya, kecuali dengan menguras habis sumber daya alamnya.

• Bila menolak perangkap utang, pemimpin negara tersebut akan “dihabisi” oleh tim kusus CIA (Jackals)

• Jika tim gagal maka kekuatan militer yang akan menyerang negara tersebut (contohnya seperti Irak dan Afganistan yang terus diserang karena memiliki cadangan minyak bumi sangat besar melebihi Saudi Arabia)

Dan hebatnya, hal ini telah menimpa Indonesia. Negeri yang disebut sebagai “zamrud khatulistiwa” ini masuk dalam global empire AS tanpa agresi militer. Utang yang sangat besar membebani rakyat. Cicilan utang itu diambil dari APBN, ini karena tidak ada sumber lain selain dari APBN? Pemerintah tidak pernah mempermasalahkan soal besarnya APBN yang ditarik untuk membayar cicilan pokok dan bunga utang Indonesia kepada IMF. Tapi giliran subsidi, malah diupayakan agar dihapus. Alasananya karena APBN defisit.

Lucunya, ketika para penguasa dan antek-anteknya ingin memperoleh dukungan suara agar bisa benar-benar berkuasa pada musim pemilihan. Dan ironisnya, rakyat memang sangat miskin, bodoh, malas, dan mudah tergoda dengan materi dan hedonisme sehingga menjadi pragmatis-opurtunis yang konsumtif. Akhirnya terjebak dalam rayuan penguasa.

Seharusnya kaum muslimin selalu bersyukur bahwa Allah telah menganugrahkan Kekayaan Alam yang begitu berlimpah, tanah subur dan jumlah penduduk yang banyak. Namun kini kekayaan yang ada tidak mampu menyejahterakan rakyatnya, malah habis digotong oleh bangsa asing.
Yang ada penduduk miskin terus bertambah serta kerusakan alam terus meluas. Rakyat hanya “rela” menerima nasib. Beginilah keadaannya ketika manusia merasa mampu dan terlalu sok tahu dalam menetapkan aturan.

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka ambil? Dan hukum siapakah yang lebih baik dari hukum Allah bagi orang-orang yang beriman” (TQS. Al-Maidah : 50)

Celaka, manusia itu diciptakan dengan nafsu, potensi khilaf dan hina. Belumkah kita menyadari bahwa kita ini ciptaan-Nya, kita ini adalah hamba-Nya, makhluk yang lemah dan bodoh. Bukankah telah begitu baiknya Allah yang menciptakan manusia dan diberinya pedoman dalam menjalani kehidupan agar tidak tersesat.

Ibaratkan HP, dikeluarkan oleh pabriknya pastilah dilengkapi buku panduan. Tujuannya agar para pengguna HP dapat dengan mudah menggunakan HP tersebut sesuai fungsinya. Ketika pun ada masalah maka melalui panduan itu diharapkan dapat membantu menyelesaikan masalah yang ada pada HP tersebut, bukan begitu?

Maka begitu pula-lah manusia. Telah Allah ciptakan lengkap dengan panduan/pedoman nya yaitu al-Qur’anul karim yang menjadi sebaik-baiknya petujuk bagi manusia. Menjelaskan berbagai aturan dalam menjalani hidup. Tidak hanya soal peribadatan semata, tapi juga sebagai jawaban atas problematika hidup manusia.

“Dan Kami turunkan kepada kamu Kitab ini untuk menerangkan semua perkara” (TQS. An-Nahl : 89)

“Menetapkan hukum hanyalah hak Allah”

Ya, begitulah seharusnya. Bukankah Allah memang Sang Pencipta? Dia menciptakan dunia dan se-isinya, sudah barang tentu Dia-lah yang paling tahu apa-apa yang terbaik bagi semua ciptaan-Nya.

Jika hukum Allah ditetapkan, maka pastilah kemaslahatan yang didapat. Lantas, masih adakah yang diragukan bagi mereka yang beriman pada Allah?

“Kebenaran (Islam) itu dari Tuhanmu, maka sekali-kali kamu jangan menjadi orang yang meragu” (TQS. Al-Baqarah : 147)

Semoga Allah segera hadirkan KHILAFAH, yang dengannya maka bersatulah umat dalam satu bingkai sistem yang telah nyata Berjaya lebih dari 13 Abad memimpin dunia, Daulah Khilafah Rasyidah.


 #SALAM MELAWAN ARUS!!

Kamis, 24 April 2014

PEMILU DEMOKRASI MINUS PERUBAHAN

Oleh : Novran Sulisno
Ketua Dinas Opini dan Propaganda

                                           

      Setelah beberapa waktu lalu terselenggaranya pesta demokrasi yang ‘’katanya’’ agenda rutin rakyat lima tahunan sebagai hari penentu kemajuan dan kebangkitan bangsa. Gegap  gempita para politikus dan simpatisannya menyemarakkan pesta ini dibalik rusak dan bobroknya perpolitikan negri ini  yang  diperkirakan menghabiskan dana triliunan dalam pelaksanaannya, Komisi Pemilihan Umum (KPU)mengatakan  telah menyiapkan anggaran negara untuk Pemilu Legislatif dan Presiden 2014. Anggaran ini disiapkan untuk tiga kali pemungutan suara, atau sekitar Rp 17 triliun. (tribunnews.com, 16/8/2013). 

     Selain menelan biaya yang besar, ada hal yang begitu menyedihkan dan sangat ironis, tampak jelas cara-cara kampanye partai politik (parpol) yang bertarung dalam pemilu 2014. Seruan-seruan kampanye jarang yang berbobot. Yang penting massa tertarik dan senang. Jarang sekali kita mendengar partai menyampaikan visi ideologis mereka tentang Indonesia ke depan. Bahkan cenderung saling menjatuhkan satu sama lain yang menjadi ciri khas sistem politik dalam demokrasi sekuler, Kalaupun ada hanya berupa slogan-slogan kosong  yang tidak bermakna dan tanpa maksud yang jelas. Bisa disebut, hampir semua partai terjebak pada pragmatisme politik, yang penting menang, bagaimana pun caranya urusan dosa itu belakangan sehingga maraknya praktek money politik yang telah menjadi rahasia umum ditengah tengah masyarakat menjadi bumbu penyedap pemilu  demokrasi sekuler.

          Padahal visi ideologis ini sangat penting. Karena persoalan bangsa ini justru ada pada ideologinya, yaitu kapitalisme-sekuler. Entah mengapa tidak ada partai yang mau menyentuh pembahasan pada ranah ini. Fakta menunjukkan adopsi ideologi kapitalisme ini yang menimbulkan problem sistematik yang multidimensional. Hampir semua aspek bernegara bermasalah. Mulai dari politik, ekonomi, sosial, ataupun budaya. Korupsi juga menggurita. Pelaku dalam tiga pilar demokrasi (eksekutif, legislatif, dan yudikatif) juga terlibat dalam korupsi yang sistemik. DPR bahkan berulang kali mendapat gelar lembaga terkorup. Ketua MK malah terjerat hukum sehingga memunculkan semboyan baru dinegri ini yakni trias koruptika. ini Sangat ironi.


Pemilu yang diharapkan dapat menelurkan para wakil rakyat yang terbaik dan munculnya orang-orang hebat (yang juga begitu sulit ditemukan) masih sulit untuk mewujudkannya, esensi yang diharapkan oleh umat bukan sekedar itu. Indonesia sangat membutuhkan perubahan yang mendasar dan menyeluruh. Perubahan sistemik yang dimulai dari ideologi  berikut hukum-hukum yang dibangun atas dasar ideologi itu. Selama Indonesia masih mengadopsi ideologi kapitalisme apapun bungkusnya persoalan  Indonesia tidak akan pernah selesai. Tampak Korban kebobrokan sistem politik ini banyak bermunculan para calon wakil rakyat yang stress karena keganasan biaya politik yang menjerat.


      Sayangnya partai-partai yang berasaskan Islam juga  minus ideologi Islam. Malah malu ketika dikotomikan bahwa perjuangan mereka untuk penerapan syariah islam, Hampir tidak ada yang dengan tegas menyatakan ingin menegakkan syariah Islam secara menyeluruh di bawah nuangan sistem Islam. Bahkan cenderung takut untuk mempromosikannya karena dianggap hal yang tabu ditengah masyrakat dan hal ini dapat mendistorsi perolehan dukungan terhadap partai. Hal ini semakin menegaskan bahwa perubahan yang ideologis, menyeluruh, dan sistemik hanya bisa diwujudkan dengan tegaknya sistem Islam yang berasaskan ideologi Islam.sistem Islam inilah sebagai institusi politik yang akan menerapkan seluruh syariah Islam secara totalitas. Dengan menegakkan khilafah-lah karut marut persoalan Indonesia akan selesai!


           Partai Islam yang mungkin menjadi harapan umat satu satunya, harus menyerukan syariah Islam yang merupakan perintah Allah SWT dalam QS Ali Imron: 104. Kelompok atau partai politik Islam ini wajib menyerukan al khair, memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran.  Imam at Thobari dalam tafsirnya  Jami’ul bayan fi ta’wil Qur’an menjelaskan pengertian yad’una ila al khair adalah:  yad’una ila al Islam wa syarai’ihi allati syara’a allahu li ‘ibadihi (menyerukan ke jalan Islam dan syariah-Nya yang disyariatkan Allah SWT kepada hamba-Nya).


          Tapi fakta menunjukkan di negri ini, Kalaupun ada  yang menyerukan syariah Islam, namun tidak secara totalitas. Masih berharap syariat Islam diterapkan dalam  sistem demokrasi dalam negara sekuler. Padahal telah nyata demokrasi adalah sistem yang tidak akan mengizinkan hal itu karena asasnya adalah sekulerisme, Sesuatu yang mustahil. sistem sekuler seperti ini tidak akan mungkin menoleransi penerapan syariah Islam secara kaffah apalagi kalau dilandasi kepada kedaulatan di tangan hukum syara’.


         Penjaga-penjaga sekulerisme akan mengatakan, “Tindakan Anda bertentangan dengan konstitusi negara, ini bukan negara Islam bung!” Tidak mustahil pula, tuntutan ini akan diberangus oleh penjaga-penjaga sekulerisme dengan kejam seperti yang terjadi di Aljazair ketika FIS menang secara demokratis dan yang baru baru ini kasus penggulingan Presiden Mursi dari IM juga oleh pengkhianatan militer dibantu para cukong AS dan sekutunya padahal Mursi jelas mengatakan bahwa dia terpilih secara demokratis.


        Untuk menegakkan sistem islam dalam bingkai khilafah, sebagaimana yang dicontohkan dalam perjuangan Rasulullah SAW, dua hal yang harus kita bangun yakni kesadaran umat yang harus dibentuk dan dukungan dari pihak yang memiliki kekuatan (ahlul quwwah). Kesadaran umat akan kewajiban khilafah, penerapan syariah Islam yang dibangun atas dasar akidah Islam, akan menggerakkan umat untuk berjuang dan siap berkorban menuntut tegaknya sistem islam yang haqiqi, Khilafah Islamiyah.
              Kesadaran yang dipicu kemunculannya ini bukan dibangun atas dasar bujukan kesenangan, rayuan harta, atau hiburan, namun murni atas dasar akidah Islam. Akidah Islam inilah dasar ideologi yang kuat, sehingga siapapun yang mengembannya akan berjuang sungguh-sungguh, siap menghadapi tantangan, bahkan harus mati sekalipun.  Kesadaran akidah Islam ini membuat para pengembannya berpikir: “Apa yang sudah saya korbankan untuk perjuangan ini. Bukan kesenangan, harta, dan jabatan apa yang sudah saya dapat dalam perjuangan ini!”


          Peralihan kekuasaan (istilamul hukmi) secara syar’i akan terwujud dengan dukungan dari ahlul quwwah seperti pemimpin kabilah di masa Rasulullah SAW atau militer atau kelompok-kelompok strategis lainnya dalam kondisi sekarang. Dukungan dari ahlul quwwah ini diperoleh lewat dakwah Islam kepada mereka. Sehingga dukungan ini didasarkan pada keimanan bukan pada pragmatisme atau kecintaan kepada kekuasaan.Umat yang sadar dan ahlul quwwah yang mendukung, merupakan orang-orang yang berhasil menghilangkan  salah satu kesulitan yang dihadapi dalam dakwah, yaitu sulitnya mengorbankan kehidupan dunia-harta, perdagangan, dan sejenisnya di jalan Islam dan dakwah. Seperti yang ditulis Syeikh Taqiyuddin an Nabhani dalam kitab at Takattul al Hizby, mereka ini adalah orang yang beriman yang sadar ketika  diingatkan bahwa Allah SWT telah membeli jiwa dan harta mereka dengan surga.


             Ya cukup diberikan peringatan seperti itu, kemudian mereka diberikan pilihan dalam berkorban, tanpa dipaksa. Sebagaimana sikap Rasulullah SAW ketika menulis surat kepada Abdullah bin Jahsy ra ketika beliau mengutusnya menjadi pemimpin pasukan memata-matai kaum Quraisy di Nakhlah, yang terletak antara Mekkah dan Thaif. Dalam surat itu Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah sekali-kali engkau memaksa seseorang dari sahabat-sahabatmu untuk berjalan bersamamu. Laksanakanlah perintahku bersama orang-orang yang bersedia mengikutimu!”  (Novrand al Fatih)


Minggu, 06 April 2014

Foto Aksi Gema Pembebasan UNSRI Tolak Pesta Demokrasi


Sekitar Puluhan mahasiswa UNSRI yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa (Gema) Pembebasan longmarch dari Terminal UNSRI Indralaya mengelilingi di wilayah jalan setiap fakultas UNSRI, Selasa (2/4) pagi di Indralaya. Satu persatu orator dari perwakilan masaing-masing kampus maju berorasi meneriakkan aspirasinya seputar penolakan penerapan demokrasi dan tuntutan ditegakkannya syariah dan Khilafah. “Pesta Demokrasi adalah sebuah tipu daya dan Ilusi yang menjadi rutinitas tahunan Indonesia sebagai negara yang menerapkan demokrasi, tidak ada bukti kesejahteraan dan malah menunjukkan kebobrokan multidimensi  yang sangat mengerikan, kembalilah kepada sistem yang haqiqi yakni sistem islam, Allahuakbar”



Pernyataan sikap yang dibacakan oleh Ketua Gema Pembebasan Komisariat Unsri, Andri Novriansyah dari Fakultas Pertanian.3 Poin penting yang diserukan, yaitu :

1. menyeru rakyat Indonesia untuk menolak Pesta Demokrasi yang hanya merupakan gelaran konyol untuk menipu dan membohongi rakyat Indonesia yang telah terpuruk, dimana melalui mekanisme pesta demokrasi terjadi perampokan besar besaran uang negara yang dilakukan oleh elit politik busuk. sungguh ini merupakan pengkhianatan dan  kedzaliman terhadap rakyat Indonesia.



2.   menyeru rakyat Indonesia untuk mencampakkan Demokrasi yang telah terbukti  gagal total  dan tak mampu membawa indonesia kepada perubahan dan kebangkitan yang hakiki, malah justru dengan demokrasi, Indonesia semakin jatuh pada jeratan penjajahan asing dan jurang kesengsaraan.

3.   menyeru rakyat Indonesia untuk memilih solusi baru yakni Syari'ah Islam  dalam bingkai negara Khilafah yang memang sangatlah dibutuhkan oleh Indonesia, bahkan dunia.  Hanya hukum Allah SWT berupa Syari'at Islamlah yang mampu menyejahterakan ummat manusia.  Hal ini sudah digambarkan dengan jelas dalam firman Allah SWT : “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A'raf [7]:96)
                            



Sabtu, 25 Januari 2014

ISLAM AGAMA IDEOLOGI

Apa Ideologi Kita ?

Ketikaditanyakan; “Apa ideologi kita? Ternyata banyak yang kebingungan menjawabnya.Sedangkan untuk menjawab apa agama kita ? Dengan mudah dapat segera kita jawab.Mengapa demikian ?
Initiada lain karena selama ini kita hanya menjadikan islam sebatas agamaspiritual yang tidak beda dengan fungsi agama nasrani & yahudi maupun agamalainnya. Ketika kita hanya menjadikan islam sebatas agama ritual (hanya urusanibadah ritual) maka untuk mengatur kehidupan sehari-hari kita menggunakanideologi lain (mengambil ideologi kapitalisme atau sosialisme).  Sebagai contoh, bukankah kita memeluk islamtapi dalam pengaturan hukum kehidupan sehari-hari kita menggunakan KUHPpeninggalan Belanda? Sementara hukum Islam Kita campakkan. Kenapa kita tidakgunakan hukum Islam?
Demikianpula dalam mengatur pemerintahan kita menggunakan sistem demokrasi dariideologi kapitalisme. Mengapa kita tidak menggunakan sistem  Pemerintahan Khilafah yang berasaldari ideologi Islam ?
Kesemuanyamerupakan kenyataan bahwa kita tengah menjadikan islam hanya sebagai agamaritual, tidak menjadikannya ideologi. Sementara dalam hidup keseharian kitamengambil ideologi lain kendati kita beragama islam. Lalu apa sebenarnyaideologi kita ?

Apa Itu Ideologi ?
Menurut Kamus Besar BahasaIndonesia berarti :
· Kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asaspendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup
· Cara berpikir seseorang atau suatu golongan
· Paham, teori dan tujuan yang berpadu merupakansuatu program sosial politik
Menurutistilah dalam bahasa Arab, Ideologi  dikenaldengan nama “al-mabda”. Mabda (ideologi) adalah “aqidah yang didasarkan kepada akal (‘aqidah ‘aqliyah) yg tergalididalamnya aturan (nizhom)”.
JadiIdeologi adalah dasar(asas) untuk membangun berbagai peraturan hidup untukmengatur kehidupan manusia.

Sedangkan ‘aqidah adalahpemikiran secara menyeluruh tentang alam, manusia dan kehidupan, baiksesuatu yang terkait sebelum atau sesudahnya.
Adapun aturan (nizom) merupakanhasil dari kajian yang bersumber dari ‘aqidah sebagai solusi berbagai persoalanmanusia dan sebagai penjelas bagaimana aplikasi terhadap solusi tersebut.Dengan demikian dalam sebuah aturan yang bersumber dari aqidah (Islam) memilikidua muatan, yaitu pemikiran (fikroh) dan metodologi (thoriqoh).

Dari mana lahirnya  Ideologi ?
Dari penjelasan di atas, maka sebuahideologi lahir dari dua kemungkinan.
Pertama: ideologi itu lahir dari sebuahnurani kepribadian (seseorang) yang disandarkan kepada wahyu (dari Allah).
Kedua: ideologi itu lahir dari sebuahnurani kepribadian (seseorang) yang disandarkan kepada kedalaman ilmupengetahuan yang dimiliki oleh kepribadian orang tersebut.

Ideologi yang lahir dari hati nuranimanusia yang disandarkan kepada wahyu itulah ideologi yang benar (mabdashohih). Inilah Ideologi Islam. Karena ideologi itu datang dari Penciptaalam, manusia dan kehidupan (Allah SWT).

Adapun bentuk ideologi yangkedua, yaitu yang lahir dari akal pikiran manusia adalah ideologi bathil.Dimana letak kebathilannya? Karena ideologi itu lahir dari akal pikiranmanusia, sedangkan akal pikiran manusia itu lemah dan terbatas.

Karena itu, ideologi selaludidasarkan kepada pemikiran universal (menyeluruh) tentang alam, manusia dankehidupan. Dan metode suatu keharusan dalam rangka mendukung lahirnya ideologi.Sedangkan keberadaan pemikiran universsal itu sebagai asas, karena pemikiranmenyeluruh (tentang alam, manusia dan kehidupan) adalah “aqidah”, kaidahpemikiran dan sebagai manajerial pemikiran (qiyadatul fikriyah) yang dijadikanasas “way of life”.

Melihat pengertian ideologisebagaimana dikemukakan diawal, maka dapat disimpulkan bahwa di dunia ini hanyaada tiga ideologi yang mendominasi pemikiran manusia, baik secara individu,kelompok maupun bernegara. Ketiga ideologi tersebut ialah: Kapitalisme,Komunisne dan Ideologi Islam.


 Ideologi atau hanya agama spiritual ?
“Islam adalah agama yang diturunkan Allah SWT kepadaNabi Muhammad SAW untuk mengatur hubungan antara manusia denganKholiqnya, hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan hubungan antara manusiadengan sesamanya.
Hubungan antara manusia dengan Khaliqnya;  seperti beraqidah dan ibadah.
Hubungan manusia dengan dirinya sendiri seperti akhlak, makan, danberpakaian.
Hubungan manusia dengan sesamanya, mencakup masalah muamalat dansanksi”.

Sehubungandengan masalah tersebut, maka Islam adalah ideologiuntuk segala urusan kehidupan. Bukan agama lahut dan tidak ada hubungannyadengan masalah kerahiban. Karena itu dalam Islam tidak ada kelompok yangdikenal dengan istilah ”tokoh agama” dan tidak ada yang dikenal dengan “tokohdunia”, akan tetapi semua yang telah memeluk Islam disebut “Muslimin”.Semua dihadapan Islam sama, dan tidak dikenal dengan tokoh spiritual ataupublik figur.

Adapun aspekruhiyah dalam Islam adalah keberadaan benda sebagai makhluk dihadapan Khaliq(Allah) dan diatur dengan peraturan-Nya. Karena penalaran yang dalam tentangalam, manusia, kehidupan, yang ada disekitarnya dan yang berkaitan dengannyadan dalil yang menunjukkan kepada masalah itu, manusia sangat kurang, lemahsehingga membutuhkan makhluk lainnya. Semua makhluq dihadapan Pencipta (Allah)diatur dengan segala perintah-Nya, dan sesungguhnya manusia adalah bagian darikehidupan, maka wajib memiliki aturan (nizham) yang mengatur nalurinya dankebutuhannya kepada material lain. Dengan demikian tidak mungkin aturan inidatang dari manusia, karena lemahnya manusia, dan bahwasanya aturan manusia ituhanya melahirkan pertentangan, perselisih dan perlawanan yang kemudian akanmenghasilkan kerusakan dimuka bumi serta jalan kecelakaan bagi manusia.

Islamadalah aqidah dan aturan(syariah), adapun aqidah yaitu iman kepada Allah,malaikat, kitab-kitab, dan para utusan-Nya, hari akhir, qadha dan qadar, baikmaupun buruknya semua itu dari Allah SWT. Islam telah membangun aqidah atasakal dari apa yang telah ditemukan oleh akal, seperti iman kepada Allah dankenabian Muhammad SAW. Iman kepada Al-Quran semua itu dibangun dalam sifatghoib. Artinya akal tidak mungkin akan mampu menemukan seperti hari qiyamat,malaikat, surga dan neraka, kalau sumbernya tidak masuk akal yaitu Al-Quran danhadits mutawatir. Maka Islam menjadikan akal sebagai pengikat hukum.

Adapun aturan (nizham) yaitu hukum syara’ (syariah Islam) yangmengatur segala urusan manusia. Dan sistem (nizhom) Islam telah ada sebagaipengatur segala aspek, namun masih bersifat umum dan bermakna umum. Al-Qurandan Al-Hadits turun telah mengandung garis-garis besar artinya memilikikandungan umum untuk mengatasi segala persoalan hidup. Dan Allah telahmemberikan kesempatan bagi para mujtahid untuk menggali makna hukumsyara’ yang bersifat umum kepada makna yang juziyah (terperinci) dan Allahtelah menyediakan pula pahala baginya.

Mengapa kita tak ber Ideologi Islam?
Setelah memahami pembahasan ini, masihkan kita menjadikan Islam hanyasebatas agama ritual? Kenapa belum mengambilnya sebagai Ideologi? Karena hanyaada beberapa kemungkinan kita tidak berideologi Islam:
·  Tidak paham ideology
·  Kepentingan sesaat.
·  Terjebak dalam system ideology lain.
Sumber utama tidak berideologi islam adalah karena tidak paham tentangideology sehingga tertipu oleh ghazwul fikr (infasi pemikiran) ideology lain.

Sementara bagi yang sudah paham masih tergoda kepentingan sesaat yangsengaja ditawarkan oleh musuh ideology islam (yakni; Ideologi Kapitalisme &Sosialisme). Sementara bagi yang sudah tergoda oleh tawaran ideology lain makamereka akhirnya terjebak dalam system ideology tersebut, sehingga tak sempatlagi mengambil islam sebagai ideology. Bukankan terlalu banyak pelajaran danfakta bahwa memperjuangkan ideology Islam dengan menggunakan system ideologylain akan berujung kegagalan dan bahkan terjebak dalam turut mengokohkan systemideology lain? Bukankan Rasul SAW telah memberikan tauladan sebagai methodeuntuk memperjuangkan Islam dengan cara Islam?
Bukankah dalam sejarah peradaban manusia belum pernah ada buktikeberhasilan memperjuangkan islam dengan masuk dalam sistem kufur(Demokrasi)?Jika ada dimana buktinya? Namun kita dapat dengan mudah menunjukkan bukti bahwaislam pernah berhasil ditegakkan dengan tidak bergabung dalam sistem kufur.Rasul pernah membuktikan keberhasilannya dg tegaknya Daulah Khilafah Islamiyah.

Khatimah
Akankah kita membiarkan kerusakan di muka bumi ini dengan meninggalkan Islam sebagaiideologi dan diatur oleh ideologi kapitalisme???. Tentunya, problematika inimenjadi tanggung jawab setiap kita, dari mulai kita sendiri, keluarga, sekolah,masyarakat, para ulama, pejabat, tokoh masyarakat, sampai negara. Dan apabilakita tidak segera sadar dan bangkit untuk membenahi persoalan ini, maka masadepan dunia akan semakin suram dan hancur!
“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sehinggamereka bertahkim kepadamu dalam segala perselisihan diantara mereka. Kemudianmereka tidak merasa keberatan dalam hatinya menerima hukummu (putusanmu) danmereka sepenuhnya menyerah kepadamu. TQS. An-Nisa: 65

 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubahkeadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”(Ar-Ra’du :11).

]وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا[

"Dan apa saja yang dibawa oleh Rasul lakukanlah, se­dangkanyang dilarangnya maka tinggalkanlah."
 (QS. Al hasyr [59]: 7)

Wallahu a’lam bishshawab

penulis : Drs. W.A.Fathin Almaroky

Jumat, 24 Januari 2014

DALIL WAJIBNYA MENEGAKKAN KHILAFAH DARI AL-QUR'AN KEWAJIBAN MENGANGKAT KHALIFAH MENURUT IMAM MUFASSIR AL-QURTHUBI


Alloh SWT berfirman:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah. Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." QS al-Baqaroh [2]: 30.

هذه الآية أصل في نصب إمام وخليفة يسمع له ويطاع ، لتجتمع به الكلمة ، وتنفذ به أحكام الخليفة. ولا خلاف في وجوب ذلك بين الأمة ولا بين الأئمة إلا ما روي عن الأصم حيث كان عن الشريعة أصم ، وكذلك كل من قال بقوله واتبعه على رأيه ومذهبه ، قال : إنها غير واجبة في الدين بل يسوغ ذلك ، وأن الأمة متى أقاموا حجهم وجهادهم ، وتناصفوا فيما بينهم ، وبذلوا الحق من أنفسهم ، وقسموا الغنائم والفيء والصدقات على أهلها ، وأقاموا الحدود على من وجبت عليه ، أجزأهم ذلك ، ولا يجب عليهم أن ينصبوا إماما يتولى ذلك.

Ayat ini adalah pangkal dalam mengangkat imam dan khalifah yang didengar dan ditaati, untuk menyatukan kalimat (Islam) dan menerapkan hukum-hukum khalifah (syariat). Dan tidak ada khilaf terkait kewajiban itu diantara umat dan tidak pula diantara para imam. Kecuali riwayat dari al-‘Asham dimana dia telah tuli dari syariat. Begitu pula setiap orang yang berkata seperti perkataannya dan mengikuti pendapat dan madzhabnya. ‘Asham berkata: “Sesungguhnya khalifah itu tidak wajib dalam agama, tetapi hanya boleh.

Dan bahwa umat ketika telah menegakkan haji dan jihadnya, berbuat adil diantara mereka, menyerahkan haq dari diri mereka, membagikan harta ghanimah, fai dan shadaqoh kepada yang berhak, dan menegakkan sejumlah had terhadap orang yang harus dihad, maka hal itu telah mencukupi mereka, dan mereka tidak wajib mengangkat imam yang mengatur semua itu.

 ودليلنا قول الله تعالى : {إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً} [البقرة : 30] ، وقوله تعالى : {يَا دَاوُدُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الأَرْضِ} [ص : 26] ، وقال : {وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأَرْضِ} [النور : 55] أي يجعل منهم خلفاء ، إلى غير ذلك من الآي.

Dalil kami (Ahlussunnah Waljama’ah) ialah firman Alloh SWT; "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Dan firman Alloh SWT; “Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi,…”. QS Shad ayat 26. Dan Alloh SWT berfirman; “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi,…”. QS an-Nur ayat 55.
Yakni Alloh akan menjadikan dari mereka para khalifah. Dan ayat-ayat yang lain.

وأجمعت الصحابة على تقديم الصديق بعد اختلاف وقع بين المهاجرين والأنصار في سقيفة بني ساعدة في التعيين ، حتى قالت الأنصار : منا أمير ومنكم أمير ، فدفعهم أبو بكر وعمر والمهاجرون عن ذلك ، وقالوا لهم : إن العرب لا تدين إلا لهذا الحي من قريش ، ورووا لهم الخبر في ذلك ، فرجعوا وأطاعوا لقريش.

Dan sahabat telah ijmak mengajukan Abu Bakar ash-Shiddiq setelah terjadi perselisihan diantara sahabat muhajirin dan anshar di saqifah Bani Saidah dalam pengangkatan khalifah. Sehingga sahabat anshar berkata: “Dari kami ada amir (pemimpin) dan dari kalian ada amir”. Lalu Abu Bakar, Umar dan sahabat muhajirin  menolak hal itu dan berkata kepada mereka: “Sesungguhnya orang Arab itu tidak tunduk kecuali kepada perkampungan Quraisy ini”. Dan meriwayatkan khabar tentang itu kepada mereka. Lalu mereka kembali dan taat kepada orang Quraisy.

 فلو كان فرض الإمام غير واجب لا في قريش ولا في غيرهم لما ساغت هذه المناظرة والمحاورة عليها ، ولقال قائل : إنها ليست بواجبة لا في قريش ولا في غيرهم ، فما لتنازعكم وجه ولا فائدة في أمر ليس بواجب. ثم إن الصديق رضي الله عنه لما حضرته الوفاة عهد إلى عمر في الإمامة ، ولم يقل له أحد هذا أمر غيرواجب علينا ولا عليك ، فدل على وجوبها وأنها ركن من أركان الدين الذي به قوام المسلمين ، والحمد لله رب العالمين.
{تفسير القرطبي، العلامة المحدث أبو عبدالله محمد بن أحمد بن أبي بكر بن فرح الأنصاري الخزرجي الأندلسي ثم القرطبي رضي الله عنه، 1 / 264}.

Seandainya fardlunya imam itu tidak wajib, tidak wajib pada Quraisy dan tidak pula pada selain mereka, maka perdebatan dan perbincangan padanya tentu tidak boleh terjadi. Dan pasti ada yang berkata; Sesungguhnya mengangkat imam itu tidak wajib, tidak pada Quraisy dan tidak pula pada  selain mereka. Maka pertentangan kalian tidak berarti dan tidak berfaidah pada perkara yang tidak wajib”. Kemudian Abu Bakar Shiddiq RA ketika menjelang wafatnya menyuruh Umar menjadi imam. Dan tidak ada seorangpun berkata: “Perkara ini tidak wajib atas kami dan tidak pula wajib atas kamu”. Maka hal itu menunjukkan atas wajibnya imamah (khilafah), dan bahwa imamah adalah rukun diantara rukun-rukun agama, yang dengannya kaum muslim dapat bangkit. Walhamdu lillahi rabbil ‘aalamiin”.
(Tafsir al-Qurthubi, juz 1, hal. 264).

Kesimpulan:
1-  Mengangkat khalifah / menegakkan khilafah adalah wajib
2-  Khalifah dan imam, juga khilafah dan imamah adalah sinonim (satu arti), karena al-Qurthubi sama-sama membicarakan keduanya untuk satu arti.
3-  Yang tidak mewajibkan penegakkan khalifah dan khilafah hanya al-Asham (dari Muktazilah) dan kelompoknya.
4-  Diantara dalil-dalil wajibnya menegakkan khalifah / khilafah adalah ayat-ayat al-Qur’an. Ini adalah pukulan telak terhadap kelompok SEPILIS yang membual bahwa di dalam al-Qur’an tidak ada ayat yang mewajibkan penegakkan khalifah / khilafah.

Komentar Sahabat

Download Ebook Pemikiran Gratis

.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

JOIN WITH US

JOIN WITH US

SEKRETARIAT

SEKRETARIAT